Senin, 01 Desember 2014

CILACAP INDEPENDENT MUSIC SCENE REPORT


Sudah setahun lebih 3 bulan saya tinggal di sebuah kota pesisir maupun kota industri, selatan Jawa Tengah, Cilacap. Waktu yang tepat untuk menulis dan mendokumentasikan banyak hal saya mulai kembali sekarang. Tidak terasa, saya juga sudah bersiap-siap meninggalkan kota ini yang rencananya akhir Nopember 2014 kembali ke asal saya di  kota Depok (Jawa Barat, pinggirannya ibukota Jakarta). Sedih memang, ya mau bagaimana lagi. Namanya tugas dari kantor, masih jadi staf, masih dikepalai banyak orang yang mengambil keputusannya juga berbeda-beda, kontrak lagi. Ah sudahlah, jadi didramatisir begini.

Cilacap dibedakan menjadi dua lingkup, yaitu Cilacap sebagai kota kecil atau ibukota dari Kabupaten Cilacap, dan Cilacap sebagai Kabupaten dengan banyak kecamatan dan desa-desa yang sangat luas dari perbatasan di area Banyumas (Purwokerto dan sekitarnya), area Brebes (Bumiayu), area Kebumen (Gombong, Karanganyar) hingga berbatasan dengan provinsi Jawa Barat dengan luas 2.142,59 km2 dan jumlah penduduk hampir 1,7 juta jiwa. Kabupaten Cilacap tercatat memiliki beberapa objek wisata yang sering dikunjungi, baik oleh wisatawan lokal dan luar negeri. Bahkan tadinya pelabuhan di Cilacap sempat menjadi tempat transit para turis luar negeri yang hendak ke Pangandaran sebelum akhirnya pelabuhan hanya untuk transit barang-barang industri saja. Dari sisi budaya, setiap tahun Kabupaten Cilacap menyelenggarakan ritual ‘Sedekah Laut’ yang diikuti oleh ribuan nelayan setempat, dan dihadiri oleh ratusan ribu orang dari berbagai daerah di Indonesia. 'Sedekah Laut' ini dibiayai dengan APBD Pemerintah Kabupaten Cilacap. Selain Sedekah laut, kesenian daerah yang berkembang di daerah ini adalah 'Calung Banyumasan' dan 'Ebeg' (semacam Kuda Kepang yang ada di Kabupaten Magelang). Bahasa yang digunakan adalah Jawa (dialek Banyumasan) yang dikenal dengan istilah ngapak (walau orang-orang tua disini juga sebagian masih menggunakan bahasa Jawa halus) meliputi daerah yang berbatasan dengan kabupaten Purwokerto dan Kebumen seperti Kesugihan, Maos, Sampang, Kroya, kota Cilacap sendiri sampai Nusa Kambangan bagian timur. Sebagian di daerah barat kabupaten Cilacap seperti Majenang, Karangpucung, Wanareja (yang dekat dengan kota Banjar & Pangandaran, Jawa Barat) berbahasa Sunda atau bisa 2 bahasa. Masalah kuliner, sudah pasti Tempe Mendoan Cilacap dan tahu brontak serta Mie Nyemek menjadi yang paling khas disini.

Namun akhirnya takdir berkata lain di akhir Nopember ini. Tugas di Cilacap diperpanjang, pindahan kembali ke Depok diundur menjadi sekitar Maret 2015. Sebagai kenang-kenangan, penting rasanya saya menceritakan apa yang ada disekitar saya. Terutama yang berkaitan dengan hobi dan passion saya di area budaya dan estetika. Apalagi kalau bukan musik, komunitas, subkultur maupun kultur tandingan. Rasanya saya memang mulai betah tinggal di kota ini setelah melewati bulan ke enam, dan seperti menjadi tanggung jawab tersendiri untuk ikut memperkenalkan lebih besar ke khalayak ramai di luar sana bagaimana skena lokal di pesisir selatan Jawa Tengah ini. Farewell note to this city.


Peta Cilacap, Jawa Tengah bagian selatan
Batas utara kota Cilacap
Benteng Pendem, salah satu warisan era penjajahan Belanda

Perpisahan (farewell) yang diundur ini akan saya mulai dengan komunitas independen (sebut saja ‘Underground’) walau sebenarnya underground tidak selalu identik dengan musik ‘metal’ bersuara parau atau gerowok seperti masyarakat awam pahami. Namun, metal dan segala variannya disini sangat diminati. Lalu, selain metal (thrash metal, death metal, black metal), skena musik pop-punk/powerpop/emo juga tidak kalah ramainya. terlihat dari banyaknya fanbase band punk lokal SUPERMAN IS DEAD (Outsiders chapter Cilacap) serta fanbase ENDANK SOEKAMTI (Kamtis chapter Cilacap). Jika ada suatu event/gigs masih tetap didominasi oleh “massa hitam” dengan khas t-shirt band-band death/black metal lokal maupun luar negeri, tipikal font tajam-tajam, berduri, perpaduan darah-darah dan sebagainya, dipadati orang-orang dari umur 15 hingga 37 tahun. Uniknya, apapun musik dari band yang main tetap tarian ala beatdown seperti 2-step, karate/kungfu kick hingga perpaduan gaya breakdance dan capoeira menghiasi area panggung. Headbang maupun hairbang masih terlihat, terutama buat mereka yang sudah menyukai metal lebih dari 10 tahunan. Circle pit disini hingga kota-kota lain di dekat sini juga unik menurut saya, karena jika si pemain band di panggung minta circle-pit pasti massa membuat lingkaran dan tangannya saling berpegangan satu sama lain lalu berputar-putar sambil tetap bergandengan. Tidak seperti circle-pit biasanya yang cuma dengan tangan diayun, berputar mengelilingi area depan stage dan cuma layaknya lari-lari biasa dengan santai hingga penuh semangat.  

Kita mulai dengan band-band metal di Cilacap. DEMOCRAZY adalah unit death metal asli Cilacap yang berdiri di tahun 97 yang sebelumnya berdiri di Malang, Jawa Timur oleh Aris Brotha sekaligus original member band ini. DEMOCRAZY di Indonesia tercatat ada 2 band lagi yang menggunakan nama tersebut, yaitu band oldschool youthcrew hardcore asal Jakarta periode 2000an awal dan satu lagi band metal dari Cirebon, namun band-band tersebut tidak aktif lagi kabarnya. Kembali ke DEMOCRAZY asal Cilacap, ketika itu Aris sedang kuliah di kota Malang mendirikan band death metal, dan sempat diperkuat oleh Sandy (RITUAL ORCHESTRA), black metal lawas asal Malang. Setelah kembali ke Cilacap, Aris segera meneruskannya di bawah bendera extreme metal Cilacap. Cek lagu-lagu mereka di reverbnation. Sangat direkomendasikan buat pecinta Cryptopsy, Necrophagist, Dying Fetus atau lokalnya Forgotten. Yang unik dan mengesankan adalah, lead guitar mereka juga aktif di grup orkes melayu atau musisi dangdut yang jam terbangnya sudah tinggi melintasi nusantara walau basic bermusiknya adalah classic & heavy metal. Lalu, ada MIYANGGA (istilah penyebutan setan yang tinggal di sungai). Band ini juga sudah lebih dari 10 tahun eksis. Kolektif metalhead disini sebenarnya sudah mulai eksis dari sekitar pertengahan 90an, dengan bendera EXTREME COMMUNITY yang beberapa dari mereka masih hadir di beberapa event musik atau masih bermain di bandnya. NOCTURNAL ORGASM, BEDAH OTAK, BLOODY TERROR merupakan  pasukan brutal death metal yang kerapkali terpampang pada pamflet-pamflet acara metalfest di sekitar Cilacap dan Banyumas akhir-akhir ini. Black metal juga tak kalah penting disini, sebagian besar masih terpengaruh budaya oriental & mistik Jawa, dan banyak juga yang memadukan symphony gothic metal. Tak lepas dari suksesnya SANTET yang legendaris dari kota tetangga, Purwokerto ikut mempengaruhi skena black metal di sekitar Cilacap. Di Cilacap ada LUCIFER, MANUNGGAL, GRIEVIOUS, ATHEISM, LACKNAT, dan sebagainya.

Me with DEMOCRAZY, Cilacap Butal death metal unit
Scene hardcore punk di Cilacap bisa dibilang tidak besar, namun para dedengkotnya masih bertahan walau usia dan urusan keluarga bertambah padat. Kadang tak terlihat karena memang sudah membaur dengan komunitas metal disana, dan sudah saling membantu misalnya menjadi crew panggung ketika band-band lainnya sedang tampil. Regenerasi tidak terlalu tampak, walau mungkin penikmatnya bertambah banyak, tetapi biasanya berkutat pada penikmat beatdown atau heavy hardcore, juga banyaknya grafiti tribal berbau hip-hop yang dekat dengan beatdown hardcore, seiring style tersebut sedang ramai diminati. Skena hardcore punk disini sudah terlihat sejak awal 2000an, hanya band-band tersebut kebanyakan berumur pendek. Ada beberapa band yang masih eksis hingga kini. STANDING HIGH adalah salah satu atau mungkin satu-satunya band oldschool hardcore (European style) yang masih aktif sejak tahun 2006 dan sudah punya album penuh dan terlibat di beberapa kompilasi lokal. Band-band hardcore punk lainnya yang masih terdengar ada DEAD HERO dimana drummer band ini juga bermain drum di DEMOCRAZY, DISTRAIN (Kawunganten), PROTES KRASS (D-beat punk ala Discharge). Ada juga SALAHXKAPRAH, MAKAR, DR.BEJATD, hingga NO SKILL, skate/melodic punk yang terbentuk dari 2005. 


Band-band Grindcore disini, style musik mereka lebih banyak memadukan unsur metal daripada yang oldschool grindcore yang sangat berbau hardcore punk. Ada LEPAS KENDALI, TERIAX, dan DEPRESHIT yang masih memadukan unsur crust punk dan BLACK DEVIL MAGNETIC yang memadukan elemen electronica dengan grindcore. Selain itu, jenis genre yang cukup banyak digemari remaja, yaitu modern post-hardcore dan modern pop-punk juga ramai disini. Terlihat dari tipikal nama-nama yang dipakai buat band. Ada LAST BETTER KISS, DESTROY THE PLEASURE, CANDLE LIGHT DINNER, dan sebagainya. Untuk scene di luar extreme metal dan hardcore punk, di Cilacap dan sekitarnya saya belum pernah mendengar band atau scene stoner, sludge, doom, industrial, apalagi indie/twee-pop. Sumpah, kadang kangen juga saya pengen menikmati indie-pop dengan nuansa baru dan berbeda, atau munculnya bibit-bibit baru atau genre-genre lainnya yang di luar musik extreme metal dan semua yang saya tulis diatas. Saya berharap berapa bulan atau berapa tahun ke depan skena musik lokal independen di Cilacap sudah tambah maju dan tambah beragam lagi, saya yakin dengan potensi mereka, ditambah banyak band disini yang peduli dengan soundsystem dan ketika main di panggung sudah menyiapkan soundman atau punya crew-crew yang mumpuni.


Ravi (STANDING HIGH), Fredy (SAJAM-Ajibarang), Hery (DEMOCRAZY), Faris (LEPAS KENDALI/DEPRESHIT)

 
DEMOCRAZY Live in Jatilawang, Kab. Banyumas

Sebenarnya, 3-4 bulan pertama saya tinggal disini rutin disuguhi alunan musik dangdut setiap kali berada di mobil jemputan kantor pagi maupun sore hari dimana sebelumnya saya belum belum terbiasa dan kaget dengan kondisi ini, hehee.. Sebagai kota Pesisir dan kota industri dimana terdapat kilang minyak terbesar di Indonesia dan pabrik semen Holcim yang sangat luas, acara hajatan seperti khitanan hingga acara resmi kantoran (apapun acaranya) tetap disuguhi berbagai musik dangdut, dari organ tunggal, dangdut campur sari hingga orkes melayu (salah satu hiburan masyarakat terpenting disini). Akhirnya setelah berkomunikasi di media sosial, saya berkenalan dengan salah seorang gitaris grindcore serta crew dari DEMOCRAZY bernama Faris dan akhirnya dia mengajak saya mengunjungi tempat dia bekerja di sebuah distro (bukan clothing) dan merchandise musik bernama DEMO Distro, dimana pemilik outfit ini adalah Aris, vokalis dari DEMOCRAZY. Dan setelah itu saya jadi punya banyak kenalan dengan orang-orang yang aktif di scene Cilacap, dari kalangan extreme metal hingga hardcore punk. Dan saya jadi bisa mendengarkan hingar bingar musik cadas lagi setelah tadinya hampir rutin 'dangdutan' terus dan menambah referensi lagu-lagu maupun lirik-liriknya. Jujur, itu menjenuhkan buat saya pribadi. 
Curug Cipendok crew (Kab. Banyumas, Jawa Tengah)

STANDING HIGH Live in Curug Cipendok

DEMO distro juga menjadi salah satu distribution outfit yang signifikan di kota Cilacap, kadang juga mendistribusikan ke outfit-outfit di banyak area sekitar Cilacap seperti Maos, Sampang dan Kroya. Ada juga Dark Rebel yang letak outfit tersebut ada di dekat sawah dan hutan di daerah Lebeng, kabupaten Cilacap. Menjamurnya clothing yang dulu sempat disebut distro juga, masih tetap diminati masyarakat remaja di Cilacap. Banyak acara-acara (terutama) pop-punk dan post hardcore yang di support oleh clothing butik fashion remaja tersebut. Produknya juga lumayan kok, bersaing dengan kota-kota besar seperti Purwokerto maupun Bandung. 
Cosmic Vortex (Jakarta) live in Jatilawang, Kab. Banyumas
Untuk gigs di Cilacap tidak periodik rutin per berapa minggu atau bulan, dikarenakan perizinan tidak semudah di kota tetangganya, yaitu Purwokerto. Jika ada event di Cilacap, berbagai komunitas datang dari banyak kota sekitar Cilacap, Kebumen dan Banyumas, dan itu sudah terbiasa walau jarak kota tersebut cukup jauh jika di skalakan di peta. Kadang ada satu truk berisi anak-anak metal dengan banner dipampang di belakang truk tersebut bertuliskan Banyumas Extreme Metal Community seperti yang pernah saya lihat di jalan. Juga ketika ada event di Purwokerto misalnya, dengan jarak puluhan kilometer dan menempuh waktu 1 jam-an lebih saya sudah sering datangi. Kadang jika tidak berbarengan dengan teman-pun saya sudah cukup terbiasa sendiri, walau ketika pulang malam misalnya jam 10-an, pernah juga jam 1 pagi pulang menuju Cilacap sejauh 50-an kilometer, harus melewati jalan gelap, hutan-hutan maupun jurang, namun kadang bertemu juga di jalan rombongan orang-orang berpakaian ‘metal’ yang hendak pulang dengan jarak puluhan kilometer. Salut, hobby with passion dan sikap independensi telah menjawab alasan usia maupun kesibukan rutin betapa statisnya siklus kehidupan yang dianggap ‘normal’ masyarakat.

LEPAS KENDALI


Sumber rujukan :
http://kesugihan666.heck.in/
www.reverbnation.com/standinghighhc
http://www.reverbnation.com/democrazy4
gumilit.blogspot.com
distrain.blogspot.com
http://cilacapbeud.blogspot.com/   
 
 

4 komentar: