Minggu, 08 Januari 2017

Seminggu setelah tahun baru 2017



Selamat datang 2017. Tahun baru sudah seminggu berjalan. Tidak ada perubahan yang cukup signifikan jika melihat kondisi sosial politik di negeri ini sekarang. Di lini massa media sosial masih saling meributkan keyakinan atau agama, terutama kalangan ‘kanan’  yang cukup masif menyerang kubu lawannya yang dianggap ‘kiri’, walau realitasnya tidak hanya ‘kanan’ dan ‘kiri’ saja, tetapi ada banyak sisi dan warna yang sedang bergejolak (ini terjadi di banyak pelosok dunia, bukan hanya Indonesia), dimana sebenarnya keyakinan terhadap ajaran suatu keyakinan adalah ranah personal namun dipolitisasi hingga menjadi hal yang sangat sensitif dan sengit, ditambah obesitas informasi yang banyaknya tanpa filter tetap masih mudah disebarkan menjelang pemilihan pimpinan atau suksesi. Lelah dan membosankan merasakan kondisi ini.

Bagi saya pribadi, seseorang saya anggap saleh atau agamis jika memang sikap dan perilakunya terpuji, bijaksana dan rendah diri, sudah atau hampir mendekati sifat-sifat baik utusan Tuhan. Sikap berangasan, mudah menyalahkan orang lain atau yang paling tren di 2016 adalah mudah menghakimi orang lain, telah menista, dan sebagainya. Menghakimi seperti itu sama sekali tidak agamis atau saleh. Saya rasa, keyakinan itu ada di dalam lubuk hati sanubari dan tidak pernah nista, sekalipun ada yang melecehkan baik disengaja ataupun tidak disengaja. Suatu keyakinan yang sudah meresap di dalam hati, apalagi keyakinan itu sudah bersifat non-materiil atau non-fisik, akan tetap kekal. Sedangkan meyakini tapi cuma terucap di bibir dan menjadi identitas atau simbol belaka dan bersifat materiil atau fisik saja, akan cepat rusak atau cuil keyakinan itu.


Beberapa hal di tahun 2016 yang baru saja terlewati, ada hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Hal-hal menyenangkan di 2016 itu rasanya banyak saya alami mendekati akhir tahun. Tapi tak menutup kemungkinan, ada juga di awal tahun 2016. Beberapa diantaranya adalah di tahun 2016 saya bisa update tulisan di blogzine ini 6 postingan. Ada peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya setelah 2012 yang masih sangat bersemangat update blogzine ini hingga mencetak zine secara fisik. Di 2015 hanya ada 1 postingan. Di 2014 dan 2013 masing-masing hanya 2 postingan juga. Untuk kesenangan lainnya, di April 2016 saya mendapat anugrah kelahiran anak kedua saya setelah 4 tahun jaraknya dengan anak pertama saya. Di awal tahun saya juga senang mendapatkan karya-karya menarik berupa rilisan fisik cd album dari Leftyfish – You, Fish! dari motornya si band seminggu setelah dirilis resmi, Mas Halim Budiono dan AK//47 – Verba Volant, Scripta Manent di toko musik daerah Blok M. Di pertengahan tahun mendapat cd Disfare s/t dan mendatangi show-nya Magrudergrind di Rossi music Fatmawati yang kebetulan penonton penuh sesak, atraktif dan interaktif sehingga serasa menonton band Youthcrew yang sing-a-longable tetapi versi cepat dan menggerinda. Juga bermain bersama Disparo, unit fastcore dari Australia yang sedang tur dunia serta silaturahmi di acara tersebut dengan kawan lama serta kawan baru.


Disparo, Sonata, B.U.R.I.E.D, Obsesif Kompulsif, Flare Up, dkk


Di menjelang penutupan tahun saya bersama-sama teman lama mengorganisir sebuah gig yang relatif lancar dan menyenangkan, apalagi disamping mengelola acara juga tetap bermain bersama band saya, juga menyaksikan band-band berbakat dan unik. Diantaranya bisa bermain sepanggung dengan band idola yang gila dan unik, Kelakar. Banyak dapat ilmu juga dari mereka selain mendapatkan album pertamanya yang langka. Hampir habis tahun 2016, ada kedatangan teman lama dari negara tetangga yang juga mengajak rekan split albumnya untuk Tur Pulau Jawa. Mereka adalah 2-piece band semua, yaitu duo noise/powerviolence dan duo noise/drone/doom dari Singapore, ABRASION yang sudah 3 kali tur Indonesia dan BEELZEBUD pada tur pertamanya yang main di venue yang sama dengan gig yang saya buat. Hingga menjelang pergantian tahun saya sempatkan waktu menemui teman lama juga di Bandung, Deden dari Alternaive Distribution dan berkunjung di tempat barunya, Rumah Kelinci dengan update literasi seperti zine dan buku-buku alternatif, juga distribusi audio/video yang makin lengkap sehingga saya dapat menemukan bacaan baru di akhir tahun 2016.



Satu lagi, saya iseng-iseng mengontak dan mengajak ngobrol salah satu idola saya juga, seorang musisi/penyanyi dan penulis lagu dari Florida. Seorang scenester di Florida Hardcore scene juga. Dia pernah menjadi vokal latar untuk Dashboard Confessional di album pertama dan kedua, serta pada lagu ‘Jamie’ untuk Tribute to Weezer. Juga seorang female-fronted di The Rocking Horse Winner dan Popvert. Ya, senangnya dia membalas semua sapaan saya hingga akhirnya saya mewawancarainya secara resmi untuk zine ini dan akan segera saya posting langsung serta masih otentik dalam bahasa Inggris segera. Rencananya saya akan terjemahkan ke bahasa Indonesia pada zine ini khusus versi cetak/kemasan fisik. Ya, itulah perjalanan yang dramatis di 2016 lalu. Karena itu semua (terutama sejak berkunjungnya saya ke Pondok Literasi - Rumah Kelinci) akhirnya saya bisa lebih bersemangat lagi untuk tetap membuat bacaan alternatif atau zine, terutama dalam versi cetak juga.
Popvert

Interview TRHW di 'Music4Autobahns'

Hal-hal yang tidak menyenangkan di 2016 yang saya ingat adalah penyesalan saya terlibat dalam pergosipan yang kenyataannya belum pasti atau memang tidak benar. Sudah buang-buang waktu, ah tai lah 😅😅 Hal kecil berujung besar dan memalukan memang, seperti yang pernah disampaikan Milisi Kecoa pada album pertamanya, Kalian Memang Menyedihkan! Ya, saya akui saya sempat terperosok jurang dalam lembah hitam dan sama sekali tak penting, menyedihkan! Menggosipkan orang lain dimana objek gosip adalah teman dekat sendiri dan faktanya itu salah serta berujung perselisihan. Maaf teman! 
 
Sudahlah, 2016 sudah berakhir. Kesalahan harus diakui dan resiko harus dihadapi, meminta maaf lebih cepat lebih baik. Apapun yang sudah terjadi, sudahlah. Tinggal memulai kembali tekad untuk memperbaiki diri dan lingkungan sekitar. 2017 sudah datang dan berjalan seminggu. Tetap mengisi waktu-waktu lowong dengan konstruktif jika memang belum produktif, terutama yang berhubungan dengan skena dimana saya masih sedikit terlibat di dalamnya. Ya, Komunitas atau skena hardcore punk lokal, juga skena musik independen dan alternatif lokal. Menurut info yang beredar di medsos juga, hip-hop akan bersinar lagi di 2017. Tetapi belum tentu sesuai ekspektasi kita sepertinya. in 2017, local hiphop will never be the same again". 2017 juga saya dibuat cukup takjub dengan kabar kesiapan EARTH CRISIS tampil di Hammersonic bulan Mei tahun ini. sampai jumpa di 'lantai dansa'.

(Absu x Teja)

Selasa, 29 November 2016

Newbornfire's 5 Lifetime Guitar Hero

I've got electric guitars
I play my stupid song
I write this stupid words
and i love everyone

Gitar merupakan salah satu instrumen yang saya sedikit kuasai dan sudah saya pelajari sejak masih duduk di bangku SMP, disamping saya juga memegang/memainkan bass sejak 2009 - 2013. Gitar, baik akustik maupun elektrik juga terinspirasi dan menjadi sebuah spirit saya untuk terus memainkannya, tentunya berkat jasa 'pahlawan' gitar saya. Para pahlawan tersebut bukan yang dikategorikan gitaris berkecepatan tinggi atau yang atraksinya akrobatik. Guitar Hero bagi saya adalah bukan kategori cepat dan akrobatis itu, melainkan yang sepintas sederhana namun bermakna, dan yang membuat saya jadi ingin bisa memainkan apa yang dia mainkan dan terus memainkannya. Se-simpel itu sebenarnya. Beberapa diantaranya adalah :

1. Kirk Hammett (Metallica)

 

Siapa yang tidak kenal Kirk Hammett? Sudah tidak perlu dijelaskan siapa dia. Hampir semua orang di segala lapisan masyarakat kenal Metallica. Juga, 99% penggemar musik rock dan heavy metal mengenal Kirk Hammett. Bagi saya, Kirk Hammett berjasa memberi warna heavy metal menjadi terdengar bluesy, classic dan harmonis. Lagu-lagu instrumen Metallica dengan sentuhan melodius Kirk Hammett terasa elegan selalu, namun sayangnya hanya klimaks pada album And Justice For All, walau beberapa di Black Album saya nikmati juga.

2. Esa Holopainen (Amorphis) 


Esa Holopainen dari Amorphis, Finlandia merupakan sosok yang menciptakan nada-nada harmoni pada unit heavy metal, dengan fundamental yang berunsur death metal, juga pada awal-awal albumnya memainkan Death-doom metal dan akhir-akhir ini menjadi progressive metal. Nada-nadanya berhasil memikat saya untuk mengulik lagu-nya ketika saya pertama kali tampil di IKJ memainkan death metal di usia belia (remaja). Nada-nada simple-nya mudah diingat, dan karakternya dapat di deteksi oleh pendengar awam. Tetapi nada-nada simple-nya bukan berarti dia tidak bisa bermain cepat pada aksi solo-nya. Bahkan solo gitarnya sangat menawan ketika atraksinya di festival-festival besar seperti Wacken Open Air 2014 dan Maryland Deathfest 2014.
3. Brian Baker (Minor Threat, Dag Nasty, Bad Religion, dsb)


Brian Baker adalah sosok gitaris ramah dan bersahaja, tidak neko-neko. Sudah berbakat sejak dia masih remaja. Tumbuh dan besar dari komunitas hardcore punk, berawal dari Government Issue, lalu di Minor Threat yang sempat di posisi bass dan kembali menjadi gitaris. Lalu lanjut membuat melodic hardcore Dag Nasty, sempat nyasar memainkan glam-rock/hard rock ala Poison, yaitu Junkyard, Samhain bersama Glenn Danzig dan terakhir di Bad Religion hingga kini. Sangat diperhitungkan, dan tidak salah sebenarnya Axl Rose dari Guns N' Roses pernah mengajaknya bergabung, tetapi dengan rendah hati Brian menolaknya.

4. Matt Fox (Shai Hulud, Zombie Apocalypse)


Shai Hulud adalah band hardcore punk yang sangat melodius, bertempo ganjil dan progresif. Bukan dari atraksi atau kelincahan tangannya. tapi ide, permainan tempo dan hitungan-hitungannya yang menawan dan bernilai. Jadi ide dari Matt Fox, sang konseptor Shai Hulud maupun proyekan lainnya Zombie Apocalypse memnginspirasi saya untuk bisa membuat lagu yang tidak biasa atau tidak standar dalam sebuah band hardcore punk.

5. Joost Noyelle a.k.a Josh Fury (Congress, Kingpin, dsb)


Josh Fury merupakan tokoh penting pada skena/komunitas hardcore punk di Belgia, H8000 Crew. Memulai bandnya dengan Congress di awal 90an dan Wheel On Progress bersama Hans Verbeke yang kemudian berganti nama menjadi LIAR. Karena saya pada dasarnya lebih mengenal heavy metal dahulu dan segala variannya sebelum terjun ke skena hardcore punk, maka ketika sebuah komposisi musik hardcore dikombinasikan dengan metal sangatlah menarik perhatian saya. terlebih musik hardcore metal-nya Congress masih dengan riff-riff speed/thrash metal murni, tidak cheesy seperti di era hardcore metal Milenium, tidak mengurangi kegaharan komposisi metalnya dan tetap bertensi tinggi pada setiap hentakan drum-nya maupun karakter keseluruhan musik. Begitupun riff-riff yang diciptakan Josh Fury sangat khas di H8000 scene.


Minggu, 16 Oktober 2016

NEWBORNFIRE WEEKLY PLAYLIST

Oleh: AxBxSuteja

Beberapa tahun yang lalu saya sempat putar beberapa lagu di kantor saat lembur hari Sabtu dengan speaker portable membawa sendiri dari rumah dan dengan volume masih agak pelan, bukan kategori musik keras atau hingar bingar juga. Cukup nge-pop kok walau memang underrated atau non-mainstream. Lalu teman saya nyeletuk, "lagu-lagu lo enak juga, tapi kok gak ada yang terkenal ya??" hahahahaa... ini lucu. 

Dari pengalaman tersebut, saya menganalisa dan sedikit menyimpulkan kalau ternyata masyarakat di Indonesia secara umum memang lebih memilih apa yang 'umum', 'instan', terkenal di pasaran dan tidak mau secara inisiatif memilih secara bebas dengan hati dan rasa jika ingin menikmati musik. Masih menunggu jalur pasar dan juga masih menggeneralisir kalau pemain musik keras jarang atau tidak suka musik lain yang lebih lembut atau nge-pop. Generalisasi seperti ini memang menyesatkan, apalagi jadi kontra-edukatif disamping penyedia atau transformator musik di Indonesia memang kurang mengedukasi pendengarnya, bahkan penyiar radio-pun sering hanya bacot atau memandu curhat sambil memutar song/playlist di radionya tanpa menjelaskan siapa yang menyanyikan, atau dari album apa diambil. Apalagi membahas genre dan segala macam relasi musik dan dokumentasi rilisannya? Sangat langka dan jauh dari esensi memperkenalkan karya musisinya. Jadi jangan heran juga kalau pembajakan terus berlangsung atau orang-orang ogah beli rilisan fisik, hanya mau mengunduh e-file lagu/album nya dari internet. Karena memang kesadaran si pemandu lagu kurang mengedukasi dan malas berbagi informasi tentang apa yang dia putar/setel kepada pendengarnya yang notabene referensinya dari jalur utama/pasar.

Sejujurnya, saya memang mempunyai band dan kategori musiknya selalu cadas. Dari punk hingga grindcore dan death metal. Sebenarnya jamming atau menghibur acara tertentu, saya juga suka terlibat dalam band yang memainkan pop hingga sedikit nge-jazz. Inspirasi itu luas, Referensi itu datang dari mana saja. Main metal ilham datang bisa dari mendengarkan Mozart, Celine Dion atau bahkan Sarah Brightman. Main Punk bisa terinspirasi dari The Smiths atau Morrisey. Saya-pun sehari-hari ketika bekerja atau mau tidur, butuh inspirasi musik yang tenang selain kadang diselingi musik hardcore punk. Ya, berikut ini saya ingin berbagi playlist yang seminggu ini sering saya putar dan sangat menginspiurasi juga di kehidupan sehari-hari saya. Playlist juga bagian dari apa yang saya rasakan dan ingin saya resapi apa yang saya dengar. Realistis saja bukan? Beberapa diantaranya juga saya upload di akun Path saya :)

1.  IVY - I don't know why i love you
(Album : Guestroom, 2002)
Indie-pop atau dream-pop ini memang benar menemani saya waktu kebagian lembur malam atau piket sewaktu saya hanya sendirian, Sabtu malam kemarin. Daripada lembur membayangkan yang aneh-aneh atau streaming film dewasa, lebih baik mendengarkan ini ditemani kopi dan biskuit cokelat. IVY sudah saya kenal sejak dirilis oleh FFWD Records asal Bandung yang juga merilis CLUB 8 dan MOCCA. Dan inilah judul yang cocok di hati 'Saya tidak tahu kenapa saya cinta pada apa yang saya jalani'. itu saja.


2. IMOGEN HEAP - First Train Home
(Album : Eclipse, 2009)
Seminggu atau 2 minggu sekali ketemu dengan keluarga (anak-anak dan istri) di luar kota memang menjadi romansa perjalanan rutin saya hingga saat ini. Cukup relevan dan 'dalem' maknanya. Apalagi ketika pagi buta setelah adzan Subuh, kereta datang untuk kembali pulang ke Jakarta tempat mencari nafkah dan bertempur dengan banyak penjilat di ibukota. Jam 5 pagi klakson lokomotif menyala, peluit petugas stasiun kereta api ditiup panjang dan roda kereta api mulai berputar menuju kota tujuan dan berpisah sejenak dengan orang-orang yang saya sayangi. Kereta pertama untuk pulang telah membawa saya masih bisa bernafas dan memenuhi 'kewajiban-kewajiban' saya. Dan beruntunglah saya pernah melihat live-nya Imogen Heap di Jakarta tahun 2009 lalu.


3. (BLACK) FLAG - Jealous Again
(Album : Jealous Again, 1980)
Cukup klise kah iri/cemburu itu? Setiap insan dikurniakan dengan perasaan cemburu. Sekiranya ada di kalangan kita yang tidak pernah berasa cemburu, itu adalah sesuatu yang abnormal. Bukan apa, perasaan cemburu ini semestinya wujud di dalam diri kita tidak beda, ada lelaki maupun wanita karena perasaan itu adalah fitrah manusia. Walaupun sedikit, perasaan itu pasti akan terbit dari lubuk hati kita yang bergelar insan. Tetapi, cemburu buta akan membunuh kita sendiri. Cemburu juga bisa menjadi jalan iblis untuk melakukan hal-hal konyol dan bodoh. Setidaknya, cemburulah yang positif untuk memacu kita melakukan yang lebih baik atau bahkan berbeda dan mempunyai terobosan baru yang konstruktif. Apalagi dengan komposisi klasik Hardcore/Punk rock seperti ini. Up the punk and still rebel, don't jealous again!




4. THE ROCKING HORSE WINNER - Sleep Well
(Album : The state of feeling concentrate, 2003)
Ya, lagu ini memang benar membuat saya tertidur pulas dan nikmat. Suara Jolie Lindholm yang dulu pernah menjadi Backing vocal DASHBOARD CONFESSIONAL tetap menjadi favorit saya sampai saat ini. Suaranya natural, angelic dan jujur. TRHW merupakan band yang berumur pendek tapi sangat esensial bagi saya, disamping diperkuat oleh anak-anak hardcore Florida dari AS FRIEND RUST yaitu Henry Olmino & Matt Crum, SHAI HULUD (Oliver Chapoy) dan POISON THE WELL (Jeronimo Gomez). TRHW memang menjadi alternatif inspirasi, bahkan beberapa lagunya seperti bayangan maya dari CHERRY BOMBSHELL-nya Indonesia. 


5. KELAKAR - Sistra
(Album : Mari Kita Mulai, 2015)
Sulit dimengertikah lagu ini? Tidak juga ah. Ini adalah komposisi hebat, Musiknya di luar pakem dan berlawanan dengan pasar/industri musik Indonesia. ya cukup rumit memang, avantgarda/vanguard, experimental metal, thrash dan kadang menggerinda, cerdas dan tangkas. Rumus menikmati lagu ini, harus suka Matematika, karya lukisan abstrak dan surealis serta olahraga ekstrim. Cukup bangga bisa berteman dengan mereka dan pernah main bareng di acara yang saya organisir.

6. JINGGA - Tentang Aku
(Album : Tentang Aku, 1996)
Jingga adalah proyek duo antara Fe dan Therry. Mengusung genre pop minimalis, dengan vokal penyanyinya yang juga minimalis (suara penyanyinya tipis tapi memang unik). 'Tentang Kita' adalah satu satunya album yang pernah dikeluarkan Jingga, dan cukup diterima publik. Saya-pun menikmatinya setelah berkisar 20 tahun tidak mendengarnya, seketika ada di youtube dan di aransemen ulang oleh Andien saya langsung memutar terus lagu ini hingga tertidur.
 

7.  THE CORRS - Buachaill On Eirne
(Album : Home, 2006)
The Corrs memang pada masanya selalu melahirkan hits. Tidak hanya 1 atau 2 lagu yang hits di setiap albumnya, tetapi bisa hampir satu album jadi hits. Easy listening, tidak mencolok atau dominan di vokal, tapi perpaduannya indah dan menawan dibalut elemen tradisional Irlandia (Celtic music). Instrumennya selalu membuat saya seperti di 'terapi audio' jika saya putar beberapa kali. Album mereka di 2016, White Light memang sejujurnya belum membuat saya jatuh cinta. Beberapa lagu seperti  'I do what i like' dan 'Bring On The Night' memang sudah cukup catchy di telinga. tapi feel-nya belum se-'dalem' album-album sebelumnya. Album-album mereka sebelumnya selalu disambut hangat Tangga lagu Internasional. Namun album ini mungkin masih sekedar menjadi tangga lagu penngemar setianya. dan Buachaill On Eirne yang berbahasa Irlandia sangat menyentuh saya, dari instrumen musik hingga terjemahan liriknya memang 'jero ka hate'.

Reportase Gig : Micro showcase vol.1 - Stand As One, 2 Oktober 2016

Oleh : A.B.Suteja

Introduksi
SKIT COLLECTIVE merupakan sebuah kolektif baru dari sudut perbatasan selatan maupun timur kota Jakarta, yang di dalamnya melingkupi unit pengorganisiran sebuah gig ataupun event lainnya dengan konsep pertunjukan mikro dan independen. Tidak menutup kemungkinan juga menjadi DIY record label di kemudian hari. Genre musik tidak dibatasi, namun didasari dari skena hardcore punk, juga thrash metal maupun death metal yang mempunyai kecocokan ataupun kesamaan ide dan misi membuat sesuatu yang bermanfaat bagi skena lokal, bahkan kami juga membuka kerjasama serta membutuhkan genre lain seperti dari skena indie-rock, indie/twee-pop, post-rock, shoegaze, noise rock hingga musik-musik unik dan eklektik lainnya. Kami juga selalu ingin belajar bersama dalam mengerjakan sesuatu untuk kepentingan orang banyak dalam hal pendokumentasian karya independen. Mahluk-mahluk dibelakangnya sebenarnya juga sudah lama pernah berkecimpung di skena musik hardcore punk Jakarta. Beberapa diantaranya sudah memulai dari akhir tahun 90an. Tongkrongan atau skena ini dulu sempat diberi nama BANGKIT Crew. Namun seiring dengan pasang surutnya kesibukan duniawi, dari mengurus keluarga, pekerjaan hingga gejolak vertikal-horizontal lainnya, maka 'tongkrongan' atau skena ini sempat istirahat di tempat dan 'bubar jalan'. Namun ketika ada silaturahmi atau reuni pertemuan kembali setongkrongan di waktu pasca-lebaran/halal bi halal 2016 ini, dengan beberapa ide, usul untuk tidak sekedar nongkrong bercanda gurau tidak jelas serta wacana akan kebutuhan ruang untuk bisa menuangkan ide/karya dalam wadah musik, artwork, dan sebagainya, akhirnya terbentuklah kolektif ini dengan motif ingin menjadi alternatif bagi skena independen lokal. Ya, Skit collective tidak mempunyai makna khusus, artinya adalah Gurauan atau lelucon dalam bahasa Inggris. Tetapi dalam bahasa Swedia adalah Kotoran/Tai, sedangkan jika dipanjangkan bisa juga merupakan Sekelompok Insan Tebet dimana base camp kami ada di Kebon Baru, Tebet, walaupun dari kami ada yang tinggal di Depok hingga Bojonggede Kabupaten Bogor.

MICRO SHOWCASE VOL. 1 - STAND AS ONE
Venue: Xabi space, Jl. Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan
Waktu : 17.00 sampai 22.30 WIB
Menampilkan :
- KELAKAR (Avantgarde/experimental crossover) check this out : https://www.reverbnation.com/kelakar_band
- INITIAL DISTRUST https://www.facebook.com/initiaLDistrust-641744255861740/
- TARRKAM https://tarrkam.bandcamp.com/
- TOTAL JERKS https://totaljerks80.bandcamp.com/releases
- GETAH BENING https://www.facebook.com/getahbeningthrash
- LOST CONTROL (Hey punks!, Wake Up Now or never)
- OBSESIF KOMPULSIF https://www.facebook.com/obsesifkompulsifpv/
- WARTRAX https://www.reverbnation.com/wartrax
- VHARALONE https://www.facebook.com/Vharalone-291475404305722/?hc_ref=SEARCH&fref=nf
- COWBOY COMBAT (Duo Thailand/Indonesian instrumental groove metal)


Acara pada rundown awalnya adalah jam 3 sore. Tetapi panitia membuat skenario alternatif 2 dengan rundown kedua dimulai dari jam 5 hingga jam 10 malam mengantisipasi penampil ataupun pengunjung yang datang telat atau ngaret. dengan dipakainya rundown alternatif 2 akhirnya acara berjalan lancar dan kondusif, on time sesuai harapan.

Rundown
• 17.00 - 17.20 ;
                 > Cowboy Combat
• 17.30 - 17.50 ;
                 > Wartrax
• Break Mahgrib..................
• 18.30 - 18.50 ;
                 > Obsesif Kompulsif
• 19.00 - 19.20 ;
                 > Kelakar
• 19.30 - 19.50 ;
                 > Vharalone
• 20.00 - 20.20 ;
                 > Tarrkam
• 20.30 - 20.50 ;
                 > Getah Bening
• 21.00 - 21.20 ;
                 > Total Jerks
• 21.30 - 21.50 ;
                 > Initial Distrust
• 22.00 - 22.20 ;
                 > Lost Control


Penampilan pertama dibuka oleh COWBOY COMBAT. Mereka adalah duo modern thrash/groove metal dari Thailand (pada gitar) dan dari Indonesia (pada drum) dengan komposisi instrumental serta sentuhan progressive metal. 30 menit beraksi dan berhasil memanaskan seisi ruang Xabi space ini.


COWBOY COMBAT

Band kedua adalah WARTRAX. Mereka memainkan oldschool heavy/thrash metal ala Metallica era Kill 'Em All dan sedikit pengaruh Anthrax. Cukup menambah gairah lagi kali ini. Banyak pengunjung atau penonton juga tertarik dengan band ini disamping permainannya yang rapih, juga penampilannya yang sangat KVLT. Penampilan basisnya sangat seperti Cliff Burton (Metallica) dan vokalis mereka juga tak kalah menarik dengan menggunakan bullet belt.

 WARTRAX

Band selanjutnya adalah OBSESIF KOMPULSIF setelah break sejenak 30 menit untuk waktu Magrib. Memainkan 11 lagu berdurasi cepat dan tempo cepat, nge-thrash, nge-grind dan powerviolence, termasuk intro dan cover song 'Hardcore Fun' dari band thrash/fast hardcore dari Singapore, SECRET 7.

 OBSESIF KOMPULSIF

Band selanjutnya tepat jam 7 malam adalah KELAKAR. Sebuah unit experimental crossover/avantgarde- metal dengan sentuhan jazz, classsic, grindcore dan thrash metal. Mereka banyak menyita perhatian mahluk-mahluk yang ada di Xabi space malam ini, dan pantaslah disebut high-light acara ini. Mengubah kegilaan menjadi keceriaan dalam sebuah komposisi yang padat dan bertenaga. Mereka tergabung juga dalam IPS (Indonesian Progressive Society) namun mereka paling berbeda dan eksplorasi mereka benar-benar gila, serta roots mereka dari thrash metal dan hardcore punk. Ada 1 lagu yang menggunakan bahasa tradisional batak dicampur eksperimentasi blast-beat dan harmoni suara sang vokalis Didi Priyadi serta sang komposer/pianis Reynold. Bila belum 'ngeh' dengan musik mereka, coba dengarkan proyekan-proyekannya Mike Patton (Faith No More) seperti Fantomas, Mr. Bungle, Tomahawk, juga Naked City dan di Jogja ada Leftyfish.

 KELAKAR

Selanjutnya adalah VHARALONE. Band thrash metal dengan nuansa Megadeth dan Metallica era Black album, perpaduan suara melengking dan sedikit kombinasi alternative-metal. Permainan mereka juga rapih, dan saya rasa mereka mempunyai skill yang mumpuni, diperlukan juga formula untuk menguatkan karakter mereka.


VHARALONE

Lalu disusul TARRKAM di jam 8 malam. Tarrkam sendiri merupakan band punk unik yang tidak tipikal di skena hardcore punk lokal. Memadukan 80's punk dengan sentuhan surf, jazz hingga thrash metal. Dead Kennedys serta Bad Brains menjadi hal yang fundamental jika mau meresapi musik Tarrkam. Mereka juga berhasil memanaskan suasana kembali dengan komposisi punk yang eklektik, juga lirik-lirik berbahasa Indonesia yang unik.


TARRKAM

Berikutnya masih dipanaskan lagi oleh GETAH BENING. memainkan thrash metal klasik juga dipadu dengan heavy metal, dengan vokal sedikit bernuansa PANTERA, ANTHRAX dan ROXX. Gitaris mereka kidal dan sangat peduli sound. Ada sedikit gangguan pada soundsystem, saat ampli feedback tak terarah dari microphone untuk dram. Lalu akhirnya berhasil dinetralkan kembali gangguan suara tersebut. Mereka juga sempat berkolaborasi dengan TARRKAM di akhir-akhir setlist mereka.

 GETAH BENING

Selanjutnya adalah INITIAL DISTRUST. Sebenarnya setelah Getah Bening adalah TOTAL JERKS. Namun karena mereka berhalangan untuk main, walau beberapa dari mereka sudah datang, akhirnya Total Jerks membatalkan penampilannya dan langsung dilanjut oleh INITIAL DISTRUST. Band ini merupakan band yang sudah berdiri dari akhir 90an dan sempat vakum lama walau beberapa saat sempat muncul dan merekam materinya. Mereka juga pernah berpartisipasi pada Kompilasi esensial milik Movement Record di tahun 2000-an awal, V/A Still One Still Proud #3. Mereka awalnya memainkan crust/grind, juga grind-punk. tetapi beberapa materinya juga dipengaruhi komposisi death metal. Di acara ini mereka adalah panggung kedua kalinya setelah sempat vakum beberapa tahun.


INITIAL DISTRUST

Dan penampilan terakhir ditutup dengan LOST CONTROL. Band ini sebenarnya paling lama berdirinya, sejak era MARJINAL namanya masih ANTI-MILITARY. Lost Control memainkan Oi!/street-punk dengan sedikit nuansa Japan-hardcore. Formasi baru dengan original member pada vokal, Papa Gindo yang sudah nge-punk sejak saya SMP atau bahkan SD sepertinya. Pada drum dan bass diisi oleh anak-anak Initial Distrust. Gitaris mereka juga merupakan inisiator acara dan kolektif ini. Mereka menutup gig ini dengan tetap terkontrol, tidak lost control. Vokalis mereka sebenarnya cukup mabuk berat, tetapi ketika tampil justru konsentrasi dan terarah apa yang mau mereka sampaikan akhirnya terlaksana. Hey Punks, ayo bangun atau tidak pernah bangun sekalian !

 LOST CONTROL


Atas : Suasana balkon Xabi space
Tengah : Lapakan (merchandise bands)
Bawah :
#UnseenRemains
#obsesifkompulsif
#tarrkam
#initialdistrust
#lostcontrol
#getahbening


Rabu, 17 Agustus 2016

2016, titik balik serta retrospeksi satu hingga dua dekade ke belakang (Part 2 - tamat)

Sekarang sudah pertengahan tahun 2016. Bulan Agustus, dimana musim kemarau belum juga datang dan masih terus diguyur hujan. entah ada apa dengan gejolak alam ini? Perubahan iklim yang memburukkah? Ada hal yang memang terlihat nyata pada arah memburuknya perubahan iklim global kita.

Siklus 'hijrah' (meninggalkan aktivitas musik untuk mendalami 'agama') mungkin sudah berkurang di beberapa bulan ini. Dan bila ada berita baru tentang teman atau pegiat scene yang 'hijrah' saya sudah masa bodo amat lah sekarang. Mau mereka bilang, mereka lebih baik dan kita yang belum hijrah tidak baik ya silahkan, saya sudah malas untuk menanggapinya lagi. Yang pasti, Secara fitrah manusia menyenangi suara gemercik air yang turun ke bawah, kicau burung dan suara binatang-binatang di alam bebas, senandung suara yang merdu dan suara alam lainnya. Nyanyian dan musik merupakan bagian dari seni yang menimbulkan keindahan, terutama bagi pendengaran. Pada hukum nyanyian dan musik ada yang disepakati dan ada yang diperselisihkan. kalau memang anti musik, mereka juga harusnya konsisten kalau hp mereka tidak boleh pakai ringtone, jangan dengarkan radio & nonton tv dimana setiap berapa menit pasti ada unsur musiknya. ekspresi & perasaan itu khan tidak perlu buat mereka. Cipta, rasa & karsa itu khan tidak ada bagi mereka..hehee. Aneh memang jalan pikir mereka :)

Saat ini, saya kebetulan masih main band dengan salah satu band thrashcore generasi awal-lanjutan dari TASTE OF FLESH, RELATIONSHIT, SCREWFACE, GUDANGXGARAM, MORTAL COMBAT, ANJINGTANAH dan DOMESTIK DOKTRIN. Ya, sejujurnya saya baru bisa menikmati genre ini selain mendengarkan SPAZZ, CAPITALIST CASUALTIES dan DOMESTIK DOKTRIN yaitu setelah VITAMIN X (Netherland fast/thrash hardcore unit) main di Jakarta 2005 lalu. Sebelumnya memang saya terbiasa mendengarkan rilisan-rilisan band crustcore, crust/grind, crust-punk dan D-beat crust/dis-crust. DISRUPT dan EXTREME NOISE TERROR memang paling berjasa membuat saya menikmati musik-musik bising berdetak kencang dan menggerinda seperti ini. Setelah band saya yang CRUMS itu bubar jalan, saya memang masih rajin mendatangi gigs dimanapun. Hingga akhirnya di akhir 2009 Alfred dari OBSESIF KOMPULSIF mengajak bergabung, saya terima dengan senag hati disamping mereka juga membebaskan saya ikut mengaransemen lagu dan bisa bekerja sama dalam setiap usulan dan persetujuan mereka ketika latihan. Berdekatan dengan itu juga saya diajak latihan (jamming) iseng-iseng oleh Jan (RAINCOAT) dan Yudhis ketika bertemu nonton Hardcore gig di sebuah kafe di daerah Kemang, jakarta Selatan. Jadilah VAGUE dan mereka saat ini sudah tambah besar dan banyak berkarya, baik audio maupun visual dan terdokumentasi dengan baik. Sedangkan band saya yang saat ini masih jalani memang kurang apik dalam pendokumentasian, sehingga beberapa momen krusial yang harusnya bisa diarsipkan seperti video live di negara tetangga harus terlewat begitu saja.

Panggung terakhir saya di VAGUE, sampai akhirnya awal tahun 2013 saya mengundurkan diri

https://soundcloud.com/obsesif-kompulsif
Panggung ketiga saya main bersama OBSESIF KOMPULSIF, Bogor, 2010

Selasa, 16 Agustus 2016

Bandung Zine Fest 2016, sebuah perayaan karya pembuat zine, self publisher, independent artist lokal hingga regional (negara tetangga)


Segera hadir kembali, Bandung Zine Fest
Sabtu, 27 Agustus 2016
di Spasial, Jl. Gudang Selatan No. 22 Gratis


Terdapat lebih dari 45 Zinemakers, Self Publishers, & Independent Artists yang akan hadir.
Sharing Session bersama :
Yuen - Editor dari SHOCK & AWE Fanzine, Malaysia
Didi Painsugar - Editor PENAHITAM Fanzine, Malang
Bincang Buku bersama :
Dokter Marto - Penulis buku "RSD '15 : Seberapa Besar Rp 500.000 Bisa Bicara Di Records Store Day 2015
Lelang Official Merchandise Bandung Zine Fest 2016 Deluxe Edition & Printed Official Poster diatas Canvas.
Pastikan kamu hadir di gelaran Bandung Zine Fest 2016
Official poster oleh :
Mufty 'Amenk' Priyanka
Call center :
+62878.2426.4484

Untuk saat ini, Newbornfire zine tidak berpartisipasi di event ini. Memang sungguh disayangkan..ya karena memang sampai saat ini NBF belum mengeluarkan produk/karya apapun dalam bentuk fisik. Cukup segan dengan mereka yang masih semangatdalam berkarya, baik secara fisik maupun digital, baik zine tulisan, zine puisi, zine artwork atau apapun karyanya, saya selalu angkat topi untuk mereka. terlebih kepada Deden dan teman-teman yang mengorganisir event Bandung Zine Fest ini. untuk tahun 2013 NBF zine masih hadir dalam event ini, karena memang rilisan terakhir edisi #13 saya masih punya waktu dan passion untuk memproduksi secara fisik dalam bentuk cetak/fotokopi. Bagaimanapun saya mewakili NEWBORNFIRE Zine tetap sangat mendukung mereka semua. apapun konsep mereka demi sebuah karya alternatif dan independen... Congrat & cheerzzz!!!




Zine eksibitor / Local Artist / Self Publisher :
1. Addy Debil a.k.a WHOP, Bandung Addy Debil
2. Amenkcoy a.k.a Sleborz, Bandung Mufti Priyanka
3. Amour, Cimahi
4. Aneka Donat Disko, Jakarta
5. Annisa Rizkiana Rahmasari, Semarang Annisa Rizkiana Rahmasari
6. Archfriend Comic Circle, Bandung
7. Atur Frekuensi, Ciamis
8. Binatang Press!, Jakarta
9. Bisik Bisik Kembang Goyang, Jakarta
10. Butuh Spasi, Tasikmalaya
11. Cikudapapers, Bandung
12. Cucukrowo Mekgejin, Bandung Dilla Anbar
13. Djejak Kata Bandar, Lampung
14. Dokter Marto, Jakarta
15. Durhaka Zine, Bandung
16. Flock Zine, Yogyakarta
17. Supergunz Studio, Bandung Gandhi Eka
18. Garage Zine, Banjarmasin
19. Girisonyo Berdikari, Surabaya
20. Hysteria, Semarang Adin Mbuh II
21. IVR, Bandung
22. Jekenjel Zine, Jakarta
23. Kammlet Zine, Bandung
24. Kawai Girl Zine, Surabaya
25. Kentja Press, Ciamis
26. KIF / Tigabelas Zine, Cimahi
27. Kolektif Betina, Yogyakarta
28. Lekka Leisure Club, Bandung Reka Nugraha
29. Lokit Funzine & Matakiri, Bogor
30. Ltd Edition, Bali Billy Agustan Ican Harem
31. MATAMERAH COMIX, Bandung Array Madness
32. Mata-Mata x Riotic Recs, Bandung
33. Matigaya Comic, Tangerang
34. Mustahil Media, Jakarta
35. Needle and Bitch, Yogyakarta
36. Omuniuum, Bandung Iit Boit
37. Padang On Stage, Padang
38. PENA HITAM, Malang Painsugar
39. Puput PAP Comic Zine, Pasuruan
40. Raih Cinta Dan Prestasi, Bandung
41. Rar Editions, Yogyakarta
42. Resatio a.k.a Visual Thief, Bandung
43. Rian Afriadi a.k.a The New Sun, Depok
44. Salamatahari, Bandung
45. Shock N' Awe, Kuala Lumpur Yuen Phantome
46. Skeptikal, Semarang
47. Sobat Indi3, Jakarta
48. Tamanbacabinar, Cipanas Gilang Adi Widasara
49. The Vein, Bandung Bloods Industries
50. Unrest Collective, Yogyakarta Sri Taarna Galak
51. Warning Magz, Yogyakarta Tomi Wibisono
52. Zine Semalam, Bandung


*Kilas Balik di Bandung Zine Fest sebelumnya

PARTICIPANTS CONFIRM:

ZINES:
NEWBORNFIRE
PRIMITIF
DISTRACTION
LAPUK
RESURECTION
PUNK ILEGAL
ILLUMINATUS
SEPUTAR BERPUTAR
AUDIO DESTRUKSI
RED REBEL
BUNGKAM SUARA
INKOHERENT

WEBZINE:
LEMARI KOTA
WASTEDROCKERS
BANDUNG-UNDERGROUND.COM

DISTRO/COLLECTIVE/INDEPENDENT Publishing:
IM Books
INSTITUTA
MATAMATA Zine Distro
HARSH Distro
ALTERNAIVE
MORBID DEATH ART
RUANGKECIL